Selasa, 03 Januari 2012

Laporan Praktikum Farmakognosi II

LAPORAN PRAKTIKUM
FARMAKOGNOSI II

"PEMBUATAN SIMPLISIA, EVALUASI FITOKIMIA, EKSTRAKSI MASERAI 
DARI RIMPANG TEMULAWAK"


 

                                                                                                                                                       



DISUSUN OLEH :
YUDI AGUS SAPUTRA
0810058


AKADEMI FARMASI AL-FATAH
BENGKULU
2010









BAB I
PEMBUATAN SIMPLISIA TEMULAWAK
( KONENG GEDE (Sunda), TEMU LOBAK (Madura) )


      1.      Nama latin                                                    : Curcuma xanthorrhiza Roxb
      2.      Bagian tanaman yang di jadikan simplisia       : Rimpang
      3.      Klasifikasi tanaman      :

           Nama simplisia             : Rimpang Temulawak
           Divisi                            : Spermatophyta
           Sub divisi                      : Angiospermae
           Kelas                            : Monocotyledonae
           Ordo                             : Zingiberales
           Family                           : Zingiberaceae
           Genus                            : Curcuma
           Spesies                          : Curcuma xanthorriza roxb 


Makroskopis : Keping tipis, bentuk bundar atau jorong, ringan keras, rapuh, garis tengah sampai 6 cm, tebal 2 mm – 5 mm, permukaan luar berkerut, warna coklat kuning sampai coklat, bidang irisan berwarna coklat kuning buram, melengkung tidak beraturan. (MMI JILID III HALAMAN 67)

Mikroskopis   : Berwarna kuning kejinggaan sampai coklat kejinggaan, berbau khas, bau aromatis, rasa agak pahit, epidermis bergabus, terdapat  sedikt rambut yang berbentuk kerucut, bersel satu, hipedermis agak menggabus, dibawahnya terdapat periderm yang kurang berkembang. (MMI JILIDIII HALAMAN 68).

4.    Kandungan kimia : Rimpang temulawak mengandung kurkuminoid, mineral, N   minyak atsiri, serta minyak lemak. Tepung merupakan kandungan utama, jumlahnya bervariasi   antara 48 – 54% tergantung ketinggian tempat tumbuhnya, makin tinggi tempat tumbuhnya makin rendah kadar  tepungnya,. Selain itu temulawak juga mengandung zat gizi antara lain karbohidrat, protein,   lemak, serta serat kasar dan mineral seperti K, Na, Fe, mangan dan cadmium.

5.      Khasiat/Efek Farmakologi 

a.  Berdasarkan penelitian Kertia (2005), minyak atsiri rimpang temulawak yang mengandung kurkumin,  bergamoten germakren B, kurserenon, germakron, xanthorrizol dengan kadar relative xanthorrizol 27,64 ±0.85% tiap kapsul yang diberikan dua kali sehari, setiap kali empat kapsul selama 15 hari menunjukkan adanya penurunan rata – rata angka leukosit sebesar 182,37 ± 126,51/mm² (p<0,01). Dalam penelitian ini tampak bahwa minyak atsiri rimpamg temulawak mampu menurunkan angka leukosit cairan synovial penderita dengan osteoarthritis lutut secara bermakna.

b. Menurut Nelson (1994), temulawak telah terbukti mempunyai khasiat anatara lain membantu tingkat proses penyerapan zat nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh, menghambat perkembangan tumor atau kanker serta mampu mempercepat penyembuhan jaringan kulit yang rusak karena terbakar. Ekstrak methanol rimpang temulawak dapat menghambat pertumbuhan salmonella thypii dan staphylococcus aureus dan rebusannya dapat menghambat pertumbuhan salmonella thypii tapi tidak untuk staphylococcus aureus (suhatri, 1996).

6.      Prosedur pembuatan simplisia :
     1. Pengumpulan bahan baku
Tahapan pengumpulan bahan baku sangat menentukan kualitas bahan baku. Factor yang paling berperan yaitu masa panen.
a. Biji
    Pengambilan biji dilakukan pada saat mulai mengeringnya buah atau sebelum semuanya pecah.
b.   Buah
Tergantung tujuan dan pemanfaatan kandungan aktifnya. Panen buah bisa dilakukan saat menjelang masak  (misalnya piper ningrum). Setelah bemar-benar masak (misalnya adas), atau dengan cara melihatperubahan warna/bentuk dari buah yang bersangkutan  (missal jeruk, asam dan papaya).
c.   Bunnga
Tergantung tujuan dan pemanfaatan kandungan aktifnya.
d. Daun atau herba
Panen daun atau herba dilakukanpada saat proses fotosintesis berlangsung maksimal, yaitu ditandai saat-saat tanaman mulai berbunga atau buah mulai masak. Untuk pengambilan pucuk daun, dianjurkan di pungut pada saat pucuk daun berubah menjadi daun tua.
e.   Kulit batang
Dilakukanpada tanaman yang sudah cukup umur. Saat panen paling baik adalah awal musim kemarau.
·         Umbi lapis
Dilakukan pada saat akhir pertumbuhan
·         Rimpang
Dilakukan pada saat awal musim kemarau
·         Akar
Dilakukan pada saat proses pertumbuhanberhenti atau tanaman sudah cukup umur.

      2.    Sortasi basah
Pemilihan hasil panen ketika tanaman masih segar. Sortasi dilakukan terhadap: tanah dan kerikil, rerumputan, bahan tanaman atau bagian lain dari tanaman yang tidak digunakan, dan bagian tanaman yang rusak (dimakan ulat dan sebagainya).
      3.     Pencucian
Dilakukan untuk membersihkan kotoran yang melekat, terutama bahan-bahan yang berasal dari dalam tanah dan juga bahan-bahan yang tercemar pestisida.
      4.      Pengubahan bentuk
Tujuannya untuk memperluas permukaan bahan baku. Semakin luas permukaan maka bahan baku akan semakin cepat kering. Proses pengubahan bentuk, antara lain: perajangan (rimpang, daun dan herba), pengupasan (kayu, kulit kayu, biji-bijian), pemotongan (akar, kayu, kulit kayu dan ranting), dll.
      5.      Pengeringan
      Tujuannya antara lain:
      ·         Menurunkan kadar air sehinggah tidak mudah ditumbuhi kapang dan bakteri.
      ·         Menghilangkan aktivitas enzim yang bisa menguraikan lebih lanjut kandungan zat aktif
      ·         Memudahkan pengelolaan proses lanjutannya (missal mudah disimpan).
     6.      Sortasi kering
     Pemilihan bahan setelah mengalami proses pengeringan
     7.      Pengepakan dan penyimpanan
    Faktor-faktor yang mempengaruhi pengepakan dan penyimpanan , antara lain: cahaya, oksigen atausirkulasi udara reaksi kimia yang terjadi antara kandungan aktif tanaman dengan wadah, penyerapan air, kemungkinan terjadinta proses dehidrasi, pengotoran dan atau pencemaran, baik yang diakibatkan oleh serangga, kapang, bulu-bulu tikus atau binatang lain.







BAB II
EVALUASI FITOKIMIA SIMPLISIA

1.                              Prosedur skrining fitokomia
a.       Identifikasi alkaloid
500 mg serbuk simplisia ,ditambah 1 mL Hcl encer, ditambah 9 mL air (panaskan ± 5 menit) dinginkan dan saring,pindahkan 3 mL filtrate pada kaca arloji, kemudian tambahkan 2 tetes dragendorf. Jika terjadi endapan coklat maka simplisia tersebut mengandung alkaloid. Jika dengan pereaksi mayer  terbentuk endapan menggumpal berwarna putih atau kuning yang larut dalam methanol maka ada kemungkinan ada alkaloid.
b.      Identifikasi polifenolat
Bentuk simplisia ditambah air secukupnya, dipanaskan kemudian disaring, hasil saringan tersebut ditambah FeCl, jika berwarna hitam kehijauan positif polifenolat.
c.       Identifikasi tannin
Bentuk simplisia ditambah air secukupnya, dipanaskan, kemudian saring pada saat masih panas ditambah gelatin secukupnya, jika ada endapan putih positif mengandung tannin.
d.      Identifikasi saponin
500 mg serbuk simplisia  masukkan kedalam tabung reaksi, tambahkan 10 mL air panas, dinginkan kemudian kocok kuat-kuat selama 10 detik terbentuk buih putih yang stabil selama tidak kurang dari 10 menit setinggi 1-10 cm, pada penambahan 1 tetes asam klorida 2 N buih tidak hilang, menunjukan bahwa pada simplisia tersebut mengandung saponin. 
e.       Identifikasi steroid/triterpenoid
500 mg serbuk simplisia  tambahkan 20 mL eter  dan maserasi selama 2 jam, pindahkan 3 tetes filtrate ke kaca arloji, saring dan ditambah reagent bourchard, jika terbentuk warna biru golongan steroid, sedangkan jika terbentuk  warna ungu golongan triterpenoid.


f.       Identifikasi flavonoid
Filtrate ditambah 2 mL alcohol 96% ditambah 1 keping serbuk zinc ditambah 2 mL HCl encer (diamkan selama 1 menit) ditambah 10 tetes HCl pekat, menunjukan warna merah.
g.      Identifikasi kuinon
100 mg serbuk simplisia ditambah 10 mL air (didihkan selama ± 5 menit, filtrate ditambah Na OH encer, menunjukkan warna merah.

2.      Tabel hasil pengamatan
NO
IDENTIFIKASI
PROSEDUR
HASIL
KETERANGAN
1
Alkaloid
Sp serbuk + 1 mL HCl encer + 1mL air panaskan selama 1 menit dinginkan, filtrate + 2 tts dragendorff -> endapan coklat, filtrate + mayer -> endapan putih/kuning.
Endapan kuning
Positif (+) ada alkaloid
2
Polifenol
Sp + aqua qs panaskan, filtrate + FeCl -> hitam kehijauan
Endapan coklat
Negative (-) tidak ada polifenol
3
Tannin
Sp + aqua qs panaskan, filtrate panas + gelatin qs -> endapan putih.
Endapan kuning
Negative (-) tidak ada tannin
4
Saponnin
Sp serbuk + air panaskan, filtrate di kocok kuat -> terbentuk busa + HCl encer -> busa tetap ada.
Ada busa
Positif (+) ada saponin
5
Steroid/triterpenoid
Serbuk sp digerus dengan eter -> filtrate + reagen bourchard -> biru = steroid, -> ungu = triterpenoid.
Hitam
Negative (-) tidak ada steroid dan triterpenoid
6
Flavonoid
Filtrate + 2 mL alcohol 96% + 1 kpg serbuk zinci + 2 mL HCl diamkan 1 menit  + 10 tts HCl pekat -> warna merah.
Warna merah
Positif (+) ada flavonoid
7
Kuinon
100 gr serbuk sp + 10 mL air didihkan selama 5 menit -> filtrate + Na OH encer -> warna merah.
Warna kuning, ada gas
Negative ( -) tidak ada kuinon

3.                               Pembahasan
Untuk mengetahui kandungan yang terdapat pada temulawak, maka diuji dengan cara sebagai berikut :
1.     500 mg temulawak ditambah ditambah 1 mL HCl encer di tambah 9 mL air (dpanaskan beberapa saat), dinginkan, filtratnya di tambah 2 tetes dragendouf terrbentuk endapan putih, jika ditambah preaksi mayer terjadi endapan putih atau kuning, maka pada temulawak mengandung alkaloid.
2.    Temulawak ditambah air secukupnya (dipanaskan),filtratnya ditambah FeCl3 akan terbentuk warna hitam kehijauan, berarti pada temuklawak mengandung polifenolat.
3.    Temulawak ditambah air secukupnya panaskan, filtrate panas ditambah gelatin secukupnya, akan terbentuk warna endapan putih, berarti pada temulawak mengandung tannin.
4.    Serbuk temulawak ditambah air panaskan, filtrate dikocok kuat, akan terbentuk busa kemudian ditambah HClencer,busa tetap ada, berarti pada temulawak mengandung saponin.
5.     Serbuk temulawak digerus dengan eter, filtratnya ditambah brouchardat, jika terbentuk warna biru maka temulawak termasuk golongan steroid, dan jika berwarna ungu berarti temulawak termasuk golongan triterpenoid.
6.   100 mg temulawak ditanbah 20mL air didihkan selama 5 menit, filtrate ditambah NaOH(e), jika berwarna merah berarti temulawak mengandung kuinon.
7.      Filtrate ditambah 2 mL alcohol 96% ditambah 1 keping serbuk zinc ditambah 2 mL HCl diamkan selama 1 menit ditambah 10 tetes HCl pekat, jika berwarna merah maka pada temulawak terdapat kandungan flavonoid.
4.                              Kesimpulan
            Dari hasil perlakuan dapat disimpulkan bahwa :
1.      Rimpang temulawak mengandung :
a. Alkaloid
b.    Saponin
c.    Kuinon
2.      Rimpang temulawak tidak menngandung : 
a. Polifenol
b. Tannin 
 c. Flavonoid
d. Steroid atau triterpenoid











BAB III
EKSTRAKSI MASERASI

1.      Teori tentang ekstraksi maserasi
Ekstraksi adalah kegiatan penarikan zat yang dapat larut dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair. Simplisia yang disari, mengandung zat aktif yang dapat larut dan zat yang tidak larut seperti serat, karbohidrat, protein, dan lain-lain. Factor yang mempengaruhi kecepatan penyarian adalah kecepatan difusi zat yang larut melalui lapisan-lapisan batas antar cairan penyari dengan bahan yang mengandung zat tersebut.
Zat aktif yang terdapat dalam berbagai simplisia dapat digolongkan kedalam alkaloid, glikosida, flavonoid, dan lain-lain. Strutur kimia yang berbeda-beda akan mempengaruhi kelarutan serta stabilitas senyawa-senyawa tersebut terhadap pemanasan logam berat, udara, cahaya, dan derajat keasaman. Dengan diketahuinya zat aktif yang dikandung simplisia akan mempermudah pemilihan  cairan penyari dan cara penyarian yang tepat.
Simplisia ada yang lunak seperti rimpang, daun, akar, kelembak, dan ada yang keras sepeti biji, kulit kayu, kulit akar. Simplisia yang lunak mudah di tembus oleh cairan penyari, karena itu pada penyarian tidak perlu diserbuk sampai halus. Sebaliknya pada simplisia yang keras perlu dihaluskan terlebih dahulu sebelum dilakukan penyarian.
Ditinjau dari suhu, ekstraksi dibagi menjadi dua golongan, yaitu ekstraksi dingin dan ekstraksi panas. Ekstraksi dingin misalnya maserasi dan perkolasi. Ekstrak dingin dilakukan terhadap tumbuhan yang mengandung senyawa yang bersifat termolabil. Ekstraksi panas misalnya dengan cara infuse, dekok, soxlet dan refluks.
a.       Pembuatan serbuk
Penyarian merupakan peristiwa pemindahan zat aktif yang semula berada didalam sel ditarik oleh cairan penyari sehinggah terjadi larutan zat aktif dalam larutan penyari tersebut. Pada umumnya penyarian akan bertambah baik bila dipermukaan serbuk simplisia yang bersentuha dengan penyari makin halus. Dengan demikian maka makin halus serbuk simplisia seharusnya makin baik penyariannya. Tetapi dalam pelaksanaan tidak selalu demikian karena penyarian masih tergantung juga dengan sifat fisika dan kimia simplisia bersangkutan.

b.      Pembasahan
Dinding sel tumbuhan terdiri dari selulosa. Serabut selulosa pada simplisia segar dikelilingi oleh air. Jika simplisia tersebut dikeringkan lapisan air menguap sehinggah terjadi pengerutan, sehinggah terjadi pori-pori. Pori-pori pada sel tersebut diid=si oleh udara. Bila serbuk simplisia dibasahi, maka serabut selulosa tadi akan dikelilingi oleh cairan penyari sehinggah simplisia akan membengkak kembali. Pembengkakan terbesar terjadi pada pelarut yang mengandung gugus OH. Dan pembengkakan tersebut akan naik pesat bila pebandingan antara volume gugusan OH dengan volume molekul pelarut tersebut makin besar.
Pembasahan serbuk sebelum dilakukan penyarian dimaksudkan memberikan kesempatan sebesar-besarnya kepada cairan penyari memasuki seluruh pori-pori pada simplisia sehinggah mempermudah penyarian selanjutnya.
c.       Penyarian

2.      Prosedur maserasi
a.       Ekstrak cair :
1.      Simplisia digerus -> serbuk simplisia
2.      Timbang serbuk simplisia sebanyak 500 mg
3.      Buat larutan alcohol
4.      Serbuk simplisia dimasukkan ke beaker glass besar
5.      Pembasahan serbuk simplisia dengan alcohol 70%, biarkan selama 5 menit
6.      Ad alcohol 70% sampai simplisia terendam semua -> aduk
7.    Tutup dengan alumunium foil -> diamkan selama 7X24 jam. Dan rendaman simplisia di aduk setiap hari selama 7 hari
8.      Setelah 7 hari, penyaringan dengan kain putih/kassa/kain plannel -> eksrak cair.
b.      Ekstak kental
1.   Ekstrak cair yang dihasilkan tadi dibuat menjadi ekstrak kental, dengan cara : panaskan ekstak cair diatas waterbath ad mengental.
3.      Hasil pengamatan
1.      Pemeriksaan parameter ekstrak :
a.       Organoleptis
Bentuk : serbuk temulawak
Warna  : kuning tua
Bau      : khas
Rasa    : spesifik
b.      Rendaman ekstrak
Berat simplisia : 500 gr
Berat ekstrak total       : 67,11 gr
Rendaman eksrak        : 13,42 %
Rendaman = (berat ekstrak total : berat simplisia) X 100%
                  = (67,11 : 500) X 100 %
                  = 13,42 %
Berat ekstrak total = berat cawan berisi ekstrak – berat cawan kosong
                              = 162,52 - 95,41
                              = 67,11 gr

4.      Berat serbuk / simplisia
Berat serbuk simplisia yaitu : 500 mg
5.      Pemeriksaan parameter ekstrak
1.      Organoleptis
Pemeriksaan menggunakan pancaindra untuk mendiskripsikann bentuk, warna, bau dan rasa ekstrak yang diperoleh.
2.      Rendaman ekstrak
Untuk menetapkan rendaman ekstrak, sejumlah tertentu ekstrak kental ditimbang dalam cawan penguap dan diuapkan  diatas penangas air dengan suhu 40-50 ̊ c sampai bobot tetap. Kemudian dihitung rendaman ekstrak terhadap jumlah keseluruhan eksrtrak yang diperoleh.

3.      Bobot jenis ekstrak
Timbang piknometer dalam keadaan kosong. Kemudian piknometer diisi penuh dengan air dan ditimbang ulang. Kerapatan air dapat ditetapkan. Kemudian piknometer dikosongkan dan diisi penuh dengan ekstrak, lalu ditimbang.

6.      Pembahasan
Ekstraksi merupakan pemisahan suatu zat dari campurannya dengan pembagian sebuah zat terlarut antara dua pelarut yang tidak dapat tercampur untuk mengambil zat terlarut tersebut dari satu pelarut kepelarut yang lain. Sedangkan maserasi adalah cara penarikan dengan merendam simplisia tersebut dalam cairan penyari pada suhu biasa ataupun memakai pemanasan.
Keuntungan maserasi yaitu cara pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan, dan kerugiannya yaitu penyariannya kurang sempurna.

7.      Kesimpulan
Dari perlakuan diatas dapat disimpulkan bahwa :
a. Berat simplisia = 500 gr
b. Berat ekstrak total = 67,11 gr
Rendemen ekstrak = 13,42

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar